UNGA peringati Hari Internasional Menentang Uji Coba Nuklir

PBB – Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations General Assembly/UNGA) pada Rabu (3/9) mengadakan rapat untuk memperingati sekaligus memasarkan Hari Internasional Menentang Uji Coba Nuklir.

"Peringatan hari ini berlangsung di area berada dalam situasi dunia yang dimaksud dibayangi oleh konflik, ketidakpercayaan, dan juga ancaman besar senjata nuklir," ungkap Izumi Nakamitsu, undersecretary-general PBB sekaligus perwakilan tinggi untuk urusan pelucutan senjata, mewakili Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada konferensi tersebut.

Saat kepercayaan antarnegara terus merosot serta penanaman modal di persenjataan meningkat, larangan terhadap seluruh uji coba senjata nuklir bukanlah sekadar persoalan teknis atau prosedural, ujarnya. "Hal ini merupakan sebuah keinginan moral sekaligus strategis," katanya.

Robert Floyd, Sekretaris Eksekutif Organisasi Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Coba Nuklir (Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty/CTBT), menyatakan bahwa 80 tahun pasca uji coba nuklir pertama kemudian pengeboman kota Hiroshima lalu Nagasaki di tempat Negeri Sakura pada Perang Planet II, tiada ada satu pun senjata nuklir yang tersebut diledakkan di konflik di area seluruh dunia.

Dia menambahkan bahwa pada 50 tahun berikutnya, sekitar 2.000 ledakan nuklir terjadi di dalam berbagai belahan dunia, dengan rata-rata satu kali uji coba setiap pekan selama Perang Dingin.

Sejak dibentuknya CTBT pada 1996, tercatat tak sampai belasan uji coba sudah dilakukan, menjadikan traktat ini sebagai kemenangan bagi ilmu pengetahuan, bagi multilateralisme, bagi kemanusiaan, ujar Floyd.

Vivian Okeke, Direktur Kantor Penghubung Badan Daya Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) di dalam New York, mengungkapkan bahwa sejak didirikan, IAEA sudah berupaya menjaga dari penyebaran senjata nuklir sekaligus memverifikasi bahwa ilmu pengetahuan kemudian teknologi nuklir dapat dimanfaatkan untuk tujuan damai.

Teknologi nuklir digunakan untuk mendiagnosis serta menyembuhkan penyakit seperti kanker, membantu mengatasi kelaparan, melindungi lingkungan, juga menyediakan energi bersih yang dimaksud mengupayakan kemajuan, kata Okeke, seraya menekankan bahwa sangat penting kiranya menjamin teknologi nuklir digunakan dengan aman dan juga damai.

Pada Desember 2009, Sidang Majelis Umum PBB ke-64 menetapkan 29 Agustus sebagai Hari Internasional Menentang Uji Coba Senjata Nuklir, dengan sebuah resolusi yang tersebut diadopsi secara bulat yang menyerukan peningkatan kesadaran juga edukasi tentang dampak ledakan uji coba senjata nuklir atau ledakan nuklir lainnya, juga perlunya menghentikan praktik yang disebutkan sebagai salah satu langkah untuk mencapai tujuan dunia bebas senjata nuklir.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence dalam situs web ini tanpa izin tertoreh dari Kantor Berita ANTARA.

Scroll to Top