Ibukota Indonesia – Angka naiknya harga Amerika Serikat yang dirilis Rabu (12/3) di malam hari memberikan kejutan positif bagi bursa dengan hitungan yang lebih lanjut rendah dari ekspektasi. Inflasi tahunan tercatat 2,8 persen, sedangkan Core CPI mencapai 3,1 persen.
Kedua bilangan ini menandai level terendah sejak lonjakan pemuaian pada April 2021, memberikan sinyal bahwa tekanan tarif mulai mereda.
Namun, meskipun data ini mengindikasikan perlambatan inflasi, ekspektasi terhadap penurunan suku bunga The Fed justru menyusut.
Sebelumnya, lingkungan ekonomi memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 73 basis poin, tetapi pada masa kini belaka sekitar 67 basis poin.
Ini menunjukkan bahwa pelaku bursa masih menahan optimisme terhadap kebijakan moneter yang digunakan lebih besar longgar pada waktu dekat.
Reaksi lingkungan ekonomi saham terhadap data ini cukup beragam. Ukuran Dow Jones turun sebesar 0,2 persen, sementara S&P 500 menguat 0,49 persen, juga Nasdaq melonjak 1,2 persen.
Pasar saham memang benar selalu penuh kejutan, lalu kali ini saham teknologi kembali jadi primadona.
Nvidia mencatatkan kenaikan 6,4 persen, sementara Tesla melonjak 7,5 persen, mencerminkan kuatnya sentimen positif terhadap sektor teknologi.
Sebaliknya, saham Walmart terkoreksi 2,6 persen, kemudian Apple turun 1,7 persen. Ini adalah menunjukkan adanya rotasi sektor dalam pasar, di tempat mana pemodal mulai beralih ke saham-saham dengan prospek perkembangan lebih lanjut tinggi, khususnya di tempat sektor teknologi yang mana diuntungkan oleh tren kecerdasan buatan lalu digitalisasi.
Pasar Komoditas
Di pangsa komoditas, data stok minyak mentah dari EIA menunjukkan bahwa kenaikan stok tidaklah setinggi perkiraan. Pasar sebelumnya memperkirakan peningkatan sebesar 2,001 jt barel, tetapi data aktual cuma mencatatkan kenaikan 1,448 jt barel.
Ketidakseimbangan antara pasokan kemudian permintaan ini memicu lonjakan tarif minyak mentah, yang akhirnya ditutup naik 1,66 persen ke level 67,41 dolar Negeri Paman Sam per barel. Namun, meskipun biaya minyak rebound, pada waktu ini telah mencapai level resistance kuat di dalam 67,7 dolar AS.
Dalam jangka pendek, kesempatan koreksi masih terbuka, juga strategi yang digunakan lebih banyak sesuai adalah mengawaitu kesempatan sebelum mengambil tempat lebih lanjut lanjut. Ini adalah mencerminkan dinamika pangsa energi yang tersebut masih dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan juga kebijakan OPEC.
Saat data CPI dirilis, emas berfluktuasi di jangka pendek, awalnya naik 6 dolar, kemudian terkoreksi singkat, tetapi berhasil menembus level resistance menghadapi di tempat 2.930 dolar, yang digunakan menyebabkan inovasi sentimen pasar. Saat ini nilai tukar di area 2.940 dolar per ons.
Maka untuk pergerakan jangka pendek, ketika ini emas sedang menguji support di area level 2.930 dolar. Secara teknikal tren masih kuat, serta jarak dengan prediksi sebagian analisis kemungkinan untuk menembus 3.000 dolar semakin dekat.
Di Indonesia, nilai emas ANTM bergabung menguat. Hari ini naik Rp12.000, dengan tarif ketika ini di dalam Rp1.714.000 per gram. Pasar emas terus menunjukkan tren positif juga proyeksi kenaikan masih berlanjut.
Di sisi geopolitik, ketegangan antara Rusia serta negara Ukraina kembali memanas dengan usulan gencatan senjata selama 30 hari dari Amerika Serikat.
Ukraina menyetujui proposal ini, tetapi Presiden Rusia Vladimir Presiden Rusia memberikan persyaratan tambahan yang dimaksud sulit diterima, yaitu penyerahan wilayah baru sebagai bagian dari kesepakatan.
Presiden negara Ukraina Volodymyr Zelenskyy menolak persyaratan ini serta masih teguh pada pendiriannya untuk tiada berkompromi. Hal ini menunjukkan bahwa konflik masih terpencil dari penyelesaian, lalu ketidakpastian geopolitik tetap saja menjadi faktor yang mana harus diperhatikan oleh pemodal global.
Risiko peperangan yang berkepanjangan dapat terus mempengaruhi nilai energi serta komoditas lainnya, juga menciptakan volatilitas dalam lingkungan ekonomi keuangan.
Pergerakan IHSG
Pasar saham Indonesia menunjukkan pergerakan yang digunakan berlawanan dengan indeks Negeri Paman Sam di pekan ini.
IHSG dibuka menguat, tetapi kemudian bergerak melemah seiring dengan rotasi sektor yang digunakan terjadi di area pada negeri. Salah satu sektor yang digunakan terus menjadi sorotan adalah teknologi.
Head of Research Retail MNC Sekuritas Herditya Wicaksana alias Didit menyampaikan bahwa apabila Angka Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menembus level 6.682, maka IHSG masih berpeluang untuk menguji level 6.686 sampai 6.762 sebagai area penguatan terdekatnya pada Kamis (13/3).
Ia melanjutkan IHSG berpotensi di rentang area level support 6.361 atau 6.246 serta level resistance 6.698 atau 6.818.
Saham MTDL, misalnya, yang sedang pada fase pembentukan dasar, masih mengawaitu kesempatan rebound. Dengan tren positif pada sektor teknologi secara global, saham ini miliki potensi untuk pulih di waktu dekat.
Selain itu, sektor konsumsi juga menunjukkan pergerakan menarik. Saham-saham di dalam sektor konsumsi kemudian barang konsumsi diperkirakan tidak ada tahan lama mengalami kenaikan, seiring dengan aliran dana yang mulai bergerak ke sektor ini.
Jika rotasi sektor ini berlanjut, maka ini bisa saja menjadi potensi bagi penanam modal untuk masuk ke saham-saham potensial di dalam level rendah.
Dalam kondisi seperti ini, strategi pembangunan ekonomi berbasis sektor menjadi relevan, dengan fokus pada saham-saham yang masih undervalued tetapi memiliki prospek peningkatan jangka menengah hingga panjang.
Dari sudut pandang makroekonomi, perlambatan kenaikan harga di dalam Negeri Paman Sam memberikan harapan bahwa The Fed bukan perlu terlalu agresif di kebijakan moneternya.
Namun, pengurangan ekspektasi pemangkasan suku bunga menunjukkan bahwa penanam modal masih mengantisipasi konfirmasi lebih besar lanjut dari data sektor ekonomi ke depan.
Jika naiknya harga terus melandai, maka potensi penurunan suku bunga masih terbuka, yang dimaksud dapat menjadi katalis positif bagi pangsa saham global, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, pergerakan biaya minyak yang tersebut masih fluktuatif dapat mempengaruhi sektor energi kemudian konsumsi di dalam di negeri.
Kenaikan tarif minyak berpotensi meningkatkan tekanan naiknya harga kemudian biaya produksi bagi sektor-sektor tertentu, tetapi juga mampu menjadi katalis bagi saham-saham dalam sektor energi.
Oleh lantaran itu, pemantauan terhadap pergerakan biaya minyak serta kebijakan OPEC tetap saja menjadi faktor penting di pengambilan langkah investasi.
Dengan dinamika bursa yang digunakan terus berkembang, pendekatan pembangunan ekonomi yang dimaksud fleksibel dan juga berbasis data menjadi kunci untuk mendapatkan hasil optimal.
Sektor teknologi dan juga konsumsi masih menarik untuk diperhatikan pada jangka pendek, sementara volatilitas di dalam bursa energi juga ketidakpastian geopolitik perlu diwaspadai sebagai prospek risiko yang tersebut bisa saja mempengaruhi pergerakan aset keuangan global.
