Ibukota – Kongres Biasa PSSI 2025 di tempat Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Rabu, terpaksa ditunda untuk sementara pasca Ketua Umum PSSI Erick Thohir dipanggil ke Istana Merdeka untuk menemui Presiden RI Prabowo Subianto.
Kabar penundaan sementara Kongres Biasa ini dibenarkan oleh salah satu voter sekaligus Direktur Utama PSS Sleman Gusti Randa di tempat Hotel Ritz-Carlton.
"Ya tadi Pak Ketum dipanggil identik Pak Presiden pasca pembukaan," kata Gusti Randa ketika ditemui awak media.
Gusti Randa menyatakan Kongres Biasa akan dimulai kembali pada pukul 16.00 WIB, namun hingga pada waktu ini belum juga dimulai. "Kami tahu informasi itu. Tapi katanya jam 16.00 Waktu Indonesia Barat mau dimulai lagi. Namun sampai sekarang belum dimulai juga," kata pria 59 tahun yang dimaksud juga mantan Executive Committe (Exco) PSSI itu.
Ketika dimulai lagi, Gusti Randa memverifikasi kongres akan masih akan dijalankan pada hari ini.
Adapun, berdasarkan informasi yang dimaksud diterima pada lokasi, Kongres Biasa PSSI akan dimulai pada pukul 18.00 WIB. Namun hal ini bersifat tentatif tergantung lama waktu pria yang mana juga menjadi Menteri BUMN itu menghadap Prabowo.
"Enggak tunda hari kok, masih hari ini tanggal 4. Paling sampai waktu malam acaranya," kata Gusti Randa lagi.
Sebelumnya, tercatat ada empat topik utama yang tersebut akan dibahas di Kongres Biasa PSSI yang mana sudah ada dimulai siang ini pukul 13.30 WIB. Topik pertama yang mana menjadi pembahasan yakni terkait penyampaian laporan kegiatan PSSI 2024/2025 juga rencana acara PSSI 2025/2026, lalu penyampaian laporan keuangan PSSI 2024 kemudian rencana anggaran PSSI 2025.
Kongres Biasa akan dilanjutkan pada pembahasan pemberhentian, dan juga inovasi nama juga domisili anggota PSSI, serta terakhir mengkaji pengesahan statuta federasi tahun 2025.
Kongres Biasa pada hari ini dihadiri sebanyak 92 perwakilan yang dimaksud terdiri dari 38 Asprov, 18 klub Turnamen 1, 16 klub Turnamen 2, 15 klub Kompetisi 3, lalu 5 asosiasi.
Dalam Kongres Biasa ini, juga turut dihadiri oleh beberapa jajaran petinggi atau perwakilan AFC lalu FIFA, lalu Komite Olimpiade Indonesia (KOI), KONI, jajaran Exco PSSI, hingga para voters atau perwakilan klub.
