Dalam jangka pendek, prospek tentunya kurang baik.
Jakarta – Guru Besar Keuangan dan juga Pasar Modal Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy menyampaikan pemangkasan rating yang dijalankan oleh Goldman Sachs terhadap bursa saham serta obligasi Indonesia, pada jangka pendek akan berdampak kurang baik.
Sebagaimana diketahui, bank penanaman modal jika Amerika Serikat (AS) itu, memangkas peringkat beberapa aset penanaman modal mereka di area Indonesia, utamanya yang dimaksud ada dalam bursa saham kemudian surat utang.
“Dalam jangka pendek, prospek tentunya kurang baik,” ujar Budi ketika dihubungi, pada Jakarta, Selasa.
Menurutnya, faktor yang digunakan memacu Goldman Sachs untuk memangkas rating, di tempat antaranya risiko fiskal Indonesia yang digunakan semakin meningkat seiring adanya berbagai insentif yang ditawarkan oleh pemerintah kemudian adanya pembentukan BPI Danantara.
“Faktor yang tersebut menciptakan downgrade adalah risiko fiskal yang digunakan semakin naik, akibat pembentukan Danantara lalu berbagai insentif yang digunakan ditawarkan Presiden,” ujar Budi.
Seiring dengan itu, ia merekomendasikan agar pemangku kebijakan harus lebih lanjut berhati-hati di mengurus Anggaran Pendapatan juga Belanja Negara (APBN) di area berada dalam melemahnya daya beli masyarakat, menurunnya jumlah keseluruhan kelas menengah, juga stagnasi rasio pajak.
“Pemerintah harus bijak kemudian hati- hati di mengatur APBN, di dalam tengah- sedang menurunnya daya beli, menyusutnya kelas menengah, juga rendah juga stagnannya tax ratio kita,” ujar Budi.
Goldman Sachs memotong peringkat saham Indonesia dari overweight menjadi market weight, sedangkan di tempat pangsa obligasi, mereka juga menyesuaikan peringkat untuk surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun hingga 20 tahun menjadi netral dari sebelumnya termasuk disukai.
Para analis Goldman Sachs menilai risiko itu berpusat pada kegelisahan berhadapan dengan kondisi ekonomi, setelahnya Presiden Prabowo mengumumkan rangkaian langkah pemerintah, termasuk realokasi anggaran, pembentukan dana kekayaan negara, juga perluasan kebijakan perumahan untuk keluarga berpenghasilan rendah, yang diproyeksikan akan dapat memperburuk defisit.
Strategist Goldman Sachs Timotius Moe menyebutkan bahwa laba perusahaan yang dimaksud lebih tinggi rendah dan juga likuiditas sistem perbankan yang dimaksud tambahan ketat sebagai tekanan tambahan pada pasar.
"Penundaan yang tersebut tidak ada biasa anggaran bulanan Indonesia pada Januari menyebabkan para pemodal mengajukan pertanyaan tentang keadaan keuangan pemerintah pasca langkah kebijakan yang tersebut diambil Prabowo," ujar Timotius.
Menurunnya peringkat saham kemudian obligasi Indonesia melanjutkan penilaian mirip dari Morgan Stanley pada akhir bulan lalu, yang tersebut telah terjadi memangkas peringkat saham Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia dari equal weight menjadi underweight.
Dalam laporannya, imbal hasil atau return on equity (ROE) Indonesia menunjukkan kesempatan penurunan, teristimewa dikarenakan memburuknya lingkungan perkembangan bagi sektor cyclical domestik.
