Ibukota Indonesia – Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Umar Husin menginginkan pemain Putra Jaya Pasuruan, Muhammad Hilmi Gimnastiar, dihukum seberat-beratnya setelahnya beliau melakukan tendangan kaki kanan ke dada pemain Perseta 1970 Tulungagung, Firman Nugraha, pada pertandingan sesi 32 besar Turnamen 4 Jatim di dalam Stadion Gelora Bangkalan, Madura, Senin.
Hal ini, kata Umar, adalah bentuk langkah tegas yang diberikan PSSI untuk melindungi olahraga sepak bola itu sendiri, pada hal ini menyangkut keselamatan atlet.
"Kami mengimbau untuk teman-teman yang dimaksud menjadi Panitia Disiplin atau berperan sebagai Komite Disiplin di dalam semua tingkatan liga untuk bukan ragu-ragu menghukum pihak-pihak yang melakukan pelanggaran-pelanggaran yang mana keras, brutal, sehingga tidak ada mengganggu jalannya kompetisi," kata Umar, dari keterangan resminya, Selasa.
"Bahwa memang benar bukan semata-mata di Kode Disiplin tentang jaminan keselamatan atlet itu, tapi juga dijamin ke Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) ya. Jadi itu penegasannya, agar Komdis di tingkat tempat ataupun Pandis (Panitia Disiplin) itu bisa saja berlaku tegas tanpa ragu-ragu gitu. Demi melindungi olahraga, khususnya sepak bola serta atlet. Terkait kejadian yang disebutkan kami rasa harus dihukum seberat-beratnya, seperti larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup," kata beliau menambahkan.
Aksi ini terbentuk pada menit ke-72 pada waktu skor 4-0 berubah menjadi milik Perseta 1970. Kedua pemain hendak berebut setelahnya Firman melakukan salah umpan. Namun, alih-alih menggunakan cara yang digunakan fair play, Hilmi malah melakukan tindakan tanpa berfokus pada merebut bola, setelahnya ia melakukan "tendangan kungfu" ke dada Firman.
Insiden memalukan dalam sepak bola Indonesia ini kemudian popular ke media sosial. Setelah sorotan tajam dari publik, Putra Jaya Pasururan mengumumkan memberhentikan kontrak Hilmi.
Mereka menyebut, tindakan ini diambil sebab tindakan Hilmi terhadap Firman tidaklah sesuai dengan asas sepak bola fair play juga menyalahi koridor sepak bola, "dengan melakukan tindakan kasar untuk lawan".
"Memang untuk mengurangi berulangnya tindakan-tindakan brutal, memang sebenarnya harus ditegakkan secara tegas. Pada prinsipnya kita itu ingin mengembangkan bola sepak bola, membantu federasi mengembangkan sebuah keadaan yang dimaksud kondusif untuk perkembangan sepak bola ya. Artinya bagaimana sepak bola itu mengalami perkembangan dengan sehat, dengan baik, dan juga bukan merugikan pihak lain," ucap Umar.
Sementara itu, di dalam sisi lain, Perseta 1970 memberikan info terkini bahwa kondisi pemainnya, Firman, telah berangsur membaik. "Terima kasih untuk semua pihak yang tersebut sudah ada mensupport dan juga mendoakan untuk kesembuhan Firman," tulis Perseta 1970.
Adapun, laga itu berakhir untuk kemenangan Perseta 1970 dengan skor 7-2. Pada laga berikutnya, mereka itu akan melakoni laga bertarung dengan Perseba Bangkalan pada besok Rabu (7/1).
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Kecerdasan Buatan pada web web ini tanpa izin tertoreh dari Kantor Berita ANTARA.
