Sidoarjo – Pelatih timnas U-23 Indonesia Gerald Vanenburg mengakui permainan timnya sangat jauh lebih tinggi baik ketika mengalahkan Makau 5-0 pada laga kedua Grup J Kualifikasi Piala Asia U-23 2026 di dalam Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sabtu.
Sebelumnya Vanenburg menyatakan tak puas mengawasi penampilan timnya ketika imbang 0-0 melawan Laos.
“Ya, saya pikir kami bermain sangat lebih tinggi baik daripada pertandingan pertama,” kata Vanenburg pada jumpa pers pasca pertandingan dalam Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sabtu.
Kelima gol Indonesia dicetak oleh Arkhan Fikri, Rayhan Hannan, Zanadin Fariz, juga Rafael Struick, sementara satu gol lainnya dari gol bunuh diri Ieong Lek Hang pada awal laga.
Kemenangan ini untuk sementara menempatkan Garuda Muda di dalam sikap kedua klasemen Grup J dengan empat poin, dua poin di area bawah Korea Selatan di dalam puncak klasemen yang meraih poin sempurna dari dua pertandingan.
Kendati menang besar, kata Vanenburg, timnya tak sanggup berpuas diri oleh sebab itu perjalanan belum selesai.
Indonesia akan menghadapi Korea Selatan pada laga terakhir sesi kualifikasi di dalam Stadion Gelora Delta Sidoarjo pada Selasa (9/9).
Dari pertandingan ini, akan didapatkan regu yang digunakan menjadi pemuncak grup untuk lolos otomatis ke putaran final Piala Asia U-23 pada Arab Saudi pada Januari 2026.
Selain 11 pemuncak grup yang mana melenggang ke Arab Saudi, empat runner-up terbaik berhak masuk putaran final.
“Ini momen di dalam mana kami tak bisa jadi terlalu senang serta terlalu lama bahagia sebab kami cuma perlu memikirkan Korea juga yang ini harus kami lupakan,” kata pembimbing dengan syarat Belanda tersebut.
“Kami harus beruusaha mengalahkan Korea agar lolos. Sungguh, saya pikir kami mempunyai cukup sejumlah pemain bagus untuk lolos. Dan sejujurnya, saya pikir penting bagi pemain muda untuk berada di area pertandingan itu (Piala Asia U-23 2026). Jadi kami harus memperbaiki kesalahan sejak pertandingan pertama,” tambah dia.
Pada pertandingan ini Vanenburg mengubah enam starternya. Hanya Cahya Supriadi, Kakang Rudianto, Toni Firmansyah, Arkhan Fikri, lalu Rayhan Hannan, yang digunakan ia pertahankan.
“Saya pikir jikalau Anda meninjau para pemain dan juga mereka bermain di dalam klub dan juga bermain 14 atau 15 menit, Anda bukan dapat bermain tiga pertandingan di sembilan hari," kata pemenang Piala Eropa 1988 bersatu timnas Belanda itu menjelaskan alasannya.
“Kami harus menemukan hal yang mana menyebabkan para pemain bermain di kondisi juga bentuk yang dimaksud lebih besar baik di area sini,” tutup dia.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk Artificial Intelligence pada situs web ini tanpa izin ditulis dari Kantor Berita ANTARA.
