Messi dan Pertarungan Terberatnya: Meyakinkan Argentina tentang Kebesarannya
Lionel Messi resmi menutup perjalanan panjangnya bersama Timnas Argentina setelah 21 tahun, 207 pertandingan, dan 127 gol.
Setelah membantu Argentina meraih medali emas Olimpiade 2008, harapan terhadapnya semakin tinggi. Namun, kegagalan di Piala Dunia 2010 dan Copa America 2011 membuat Messi justru menjadi sasaran kritik.
Tekanan tersebut mencapai puncaknya setelah Argentina kalah di final Copa America 2016. Messi gagal mengeksekusi penalti dan kemudian mengumumkan keputusannya untuk pensiun dari tim nasional. Namun, rakyat Argentina tidak siap kehilangan sang megabintang. Kampanye besar pun muncul untuk membujuknya kembali, termasuk pesan “No te vayas, Lio” yang terpampang di berbagai tempat di Buenos Aires.
Kedatangan Lionel Scaloni kemudian menjadi titik balik Hasilnya luar biasa: Argentina memenangkan Copa America 2021, Piala Dunia 2022, dan kembali menjadi juara Copa America 2024.
Puncaknya tentu terjadi di Qatar. Messi tampil luar biasa sepanjang Piala Dunia 2022, mencetak dua gol di final melawan Prancis dan membawa Argentina memenangkan trofi dunia setelah penantian selama 36 tahun. Momen tersebut sekaligus mengakhiri perdebatan panjang mengenai statusnya di antara legenda sepak bola dunia.
Kini, Messi meninggalkan tim nasional bukan sebagai pemain yang masih harus membuktikan sesuatu, tetapi sebagai pahlawan Argentina. Hubungan yang dahulu penuh keraguan berubah menjadi ikatan emosional yang sangat kuat antara Messi dan rakyat negaranya.
Ironisnya, pertarungan terberat Messi bukan melawan Brasil, Jerman, Prancis, atau Spanyol. Pertarungan terbesarnya adalah memenangkan hati Argentina sendiri. Dan pada akhirnya, ia berhasil.
