UEFA Boikot Final Piala Dunia 2026, Hubungan dengan FIFA Memanas Akibat Kontroversi Balogun
-
Jul, 20, 2026
Hubungan antara UEFA dan FIFA dikabarkan tengah berada dalam titik paling tegang setelah muncul kontroversi yang mewarnai penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Ketegangan tersebut bahkan disebut berujung pada keputusan Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, untuk tidak menghadiri laga final antara Spanyol dan Argentina.
Menurut laporan The Times, ketidakhadiran Ceferin bukan tanpa alasan. UEFA dikabarkan sengaja memboikot partai puncak sebagai bentuk protes terhadap sejumlah keputusan FIFA yang dinilai kontroversial sepanjang turnamen.
Salah satu pemicu utama perselisihan tersebut adalah kasus yang melibatkan penyerang tim nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun. Pemain AS Monaco itu sebelumnya menerima kartu merah saat menghadapi Bosnia dan Herzegovina pada babak penyisihan. Berdasarkan regulasi, Balogun seharusnya menjalani hukuman larangan bermain pada pertandingan berikutnya melawan Belgia.
Namun, FIFA memutuskan menangguhkan hukuman tersebut sehingga Balogun tetap diizinkan tampil. Keputusan ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk Federasi Sepak Bola Belgia yang langsung mengajukan protes resmi. Meski demikian, keberatan tersebut akhirnya ditolak oleh FIFA.
Dalam pernyataan resminya, FIFA menjelaskan bahwa penangguhan hukuman dilakukan berdasarkan ketentuan dalam Pasal 27 Kode Disiplin FIFA. Artinya, sanksi terhadap Balogun hanya akan kembali diberlakukan apabila pemain tersebut melakukan pelanggaran serupa dalam kurun waktu satu tahun.
Keputusan tersebut menuai kritik tajam dari UEFA. Federasi sepak bola Eropa itu menilai FIFA telah melanggar prinsip dasar penerapan hukuman disiplin dan menciptakan preseden yang berpotensi mengganggu integritas kompetisi internasional. UEFA menegaskan bahwa aturan mengenai skorsing otomatis seharusnya diterapkan secara konsisten tanpa pengecualian.
Selain kontroversi Balogun, hubungan kedua organisasi juga dikabarkan memburuk akibat sejumlah persoalan lain selama Piala Dunia 2026. UEFA disebut tidak puas terhadap beberapa kebijakan FIFA, mulai dari penerapan jeda minum tambahan, durasi istirahat babak pertama yang diperpanjang karena pertunjukan paruh waktu, sistem harga tiket dinamis, hingga persoalan administratif yang membuat wasit asal Somalia, Omar Artan, gagal memperoleh izin masuk ke Amerika Serikat untuk bertugas di turnamen.
Akumulasi berbagai persoalan tersebut membuat hubungan antara UEFA dan FIFA semakin memanas. Banyak pengamat menilai ketegangan ini menjadi salah satu konflik terbesar antara dua organisasi sepak bola paling berpengaruh di dunia dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi yang mengindikasikan adanya penyelesaian atas perselisihan tersebut. Namun, polemik ini diperkirakan masih akan terus menjadi perhatian dunia sepak bola, terutama jika kedua organisasi tidak segera menemukan titik temu terkait penerapan regulasi dan tata kelola kompetisi internasional.
